Objek Wisata dalam Jendela Magepanda

Diposting oleh mapancloseup pada 18:26, 16-Jul-16  •  Komentar (0)

Maumere One Love

background-1.jpg

Maumere merupakan sebuah kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan nama ibu kota-Nya Kabupaten Sikka, Flores Nusa Tenggara Timur.. Sampai hari ini, belum banyak yang tau, kalau Maumere memiliki potensi wisata bahari yang sangat menarik serta wajib untuk sobat kunjungi dan menjelajahi..

Kita menuju ke arah barat kota Maumere atau berjarak sekitar 20 KM dari Bandara Frans Seda, tepatnya di Kecamatan Magepanda. Sobat traveler dapat menjangkau tempat ini selama kurang lebih 50 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor..

Foto di bawah ini, menunjukan ke anda arah perjalanan yang akan sobat lewati nanti menuju ke Desa Magepanda. lamtoro-kolisia.jpg Dihiasi pohon-pohon lamtoro yang berada di bahu kiri jalan dan kanan, tempat ini akan memberikan sensasi yang berbeda pastinya ketika sobat menyaksikannya langsung.

pantai-kaju-wulu-ossboim.jpg [clor=blue]Tanjung Kaju Wulu ( foto:Oss,Boim,Dpar)

Adalah Tanjung Kaju Wulu. Sobat akan menjumpai tempat ini setelah sobat melewati jalan di atas. Pasir putih dan pepohonan menghiasi pantai ini, sobat akan merasa menemukan sebuah Surga kecil yang di kelilingi bukit-bukit bertebing di pesisir jalan. Jangan heran, jika tempat ini di jadikan tempat rekreasi keluarga, komunitas dan tentunya masih asri dan sangat jernih air lautnya. Pantai ini juga bisa di pakai untuk snorkeling.

Masih dikawasan Tanjung Kaju Wulu,

taman-salib-ke-bukit.jpgtaman-salib-dilihat-dari.jpg foto:Ebed de Rosary

Sobat akan menemukan Salib di atas bukit yang kerap di sebut Lado. Salib yang dilapisi keramik berwarna putih ini, persis berada tepat ketinggian di barisan bukit ke 2 dari Bandara Frans Seda, dimana kedua sisinya terdapat kemiringan 45 derajat. Pemandangan yang sangat menakjubkan ketika sobat melihat ke arah kiri, kanan dan juga ke arah depan dari puncak bukit. Sobat akan kehilangan momentum, panoramanya ciptaan Tuhan jika sobat tak sempat mendaki diatas puncak bukit ini. Laut biru terbingkai liukan garis pantai berpasir putih dan sobat akan menemukan keindahan lukisan alam terpampang jelas di tempat ini..

persawahan-1.jpgpersawahan2.jpg

Masuk Perkampungan besar Desa Magepanda, Sobat akan dimanjakan dengan hamparan sawah-sawah para petani yang menyejukan mata. Ya, Magepanda salah satu Desa penghasil beras terbesar di Kabupaten-nya, Lumbung padi bagi Kabupaten Sikka, selain penghasilan seperti pisang, kelapa, dan mente..

Masih dalam kawasan Magepanda, Kecamatan Magepanda, kita menuju ke Desa Reroroja, salah satu Desa yang berbatasan langsung Kabupaten Ende, adalah Area Hutan Wisata Bakau.

jembatan-hutan-wisata-bak.jpgjembatan-wisata-hutan-bak.jpg foto:Mario Sina

Area hutan wisata seluas 30 hektar yang ditanam secara mandiri oleh Baba Akong ini, ia adalah warga keturunan China yang berdomisili sejak lama di tempat ini, Ia juga di kenal sebagai pegiat lingkungan. Banyak cerita yang tersirat dalam kehidupan Baba Akong ketika ia pertama kali mulai merawat dan menanam Bakau ini. Mau tau ceritanya, silahkan sobat bertemu langsung 4 mata dengan beliau di kediamanya, Kan lebih seruh kalau diceritakan langsung oleh penanamnya. hehehe Tempat ini wajib sobat kunjungi, sobat akan menemukan berbagai aneka jenis bakau yang hanya satu-satunya di tempat ini. Sobat akan menyusuri dari sudut ke sudut area hutan bakau dengan jembatan yang memang sengaja dibangun untuk memberi kemudahan bagi para wisatawan. Tempat ini sudah menjadi tempat alternatif bagi warga Sikka dan juga menjadi pusat penelitian bakau yang dikunjungi oleh para peneliti dalam maupun luar negri..

Masih banyak objek-objek wisata menarik terkhususnya di kecamatan Magepanda yang sayangnya sebagian belum terjamah oleh Pemerintah daerah Kabupaten Sikka. Salah satunya air terjun "Muru bewa " di dusun Duli Desa Reroroja. Ini adalah air terjun yang besar dan panjang di Kabupaten Sikka pada umumnya. Dengan nama "Muru Bewa" yang kalau di artikan kedalam bahasa Indonesia "Percikan Panjang", ada juga objek wisata lain seperti "Embung Wela Jema" dan "Gua Maria Bedan Dai"....

Apakah Sobat traveller ingin mengunjunginya??

Wellcome in Flores Maumere

GEREJA DAN POLITIK

Diposting oleh mapancloseup pada 16:33, 30-Jun-16  •  Komentar (0)

Catatan Reflektif Untuk Keterlibatan Gereja Katolik Dalam Politik Kabupaten Sikka Flores Nusa Tenggara Timur russell-moore-balancing-c.jpg RD. Ludger Oke

Akhir-akhir ini muncul perdebatan mengenai hubungan antara Gereja dan politik. Sejauh-mana Gereja memposisikan diri dalam kancah politik yang praktisnya berkisar pada usaha perebutan dan mempertahankan kekuasaan. Seperti apa sikap Gereja terhadap politik dan seperti apa politik yang digambarkan Gereja supaya tidak berbenturan dengan tradisi dan Magisterium Gereja? Bagaimana keduanya dapat didamaikan dan saling melayani satu sama lain?

Semua orang tahu bahwa Flores pada umumnya dan kabupaten Sikka pada khususnya, adalah wilayah dengan populasi Katolik paling besar di Indonesia. Negara dan Bangsa ini juga mencatat bahwa di era 60 sampai 80-an, kabupten Sikka memyumbangkan beberapa tokoh nasional yang mempunyai peran besar dalam pemerintahan.

Beberapa di antara mereka kini telah menjadi sepuh. Namun belakangan ini tokoh-tokoh baru dari kabupaten Sikka seolah tak bermunculan lagi. Kalaupun ada, mereka seolah bergerak dan berjuang sendiri- sendiri. Ada apa dengan ini?

Dahulu Gereja Katolik di Flores, dengan sekolah-sekolahnya, khususnya Seminari sungguh menjadi pencetak figure-figure yang punya nama di lingkup social kemasyarakatan. Apakah sekarang tidak lagi? Saya kok tidak yakin! Lalu, mereka di mana sekarang? Ini pertanyaan maha penting yang harus dijawab oleh semua orang di kabupaten Sikka, khususnya Gereja. Meski Konsili Vatikan II memberikan batasan-batasan yang jelas antara wilayah politik praktis dan Gereja, tetapi rasanya miris, jika Gereja Katolik di kabupaten Sikka, harus memilih menghindari ruang politik dalam arti yang luas yakni demi Bonum Communae. Atau sebaliknya mencemburkan dirinya melalui beberapa persona Gereja ke dalam politik praktis, sehingga sulit memetakan mana ruang praksis politik dan mana ruang idealisme politik secara luas, yang tak lain menjadi ekspresi kesaksian ajaran moral Gereja Katolik. Ada satu kegelisahan yang belakangan ini mengemuka di tengah umat, bahwa ada beberapa imam di Indonesia yang telah terlibat terlalu jauh dalam politik praktis. Kita berharap bahwa para imam di kabupaten Sikka sungguh jauh dari gunjingan ini. Wallahu A’lam!

Tulisan ini hanya sebuah refleksi pribadi yang sifatnya terbuka. Benar dan tidaknya dapat dikonfirmasikan langsung dengan konteks kita di kabupaten Sikka. Lebih dari itu, tulisan ini juga dimaksudkan sebagai sebuah sumbangan pemikiran, bahan consientisasi bagi semua pihak di kabupaten Sikka. Meski kami berada di luar, tetapi rasa cinta kami untuk kemajuan kabupaten Sikka adalah sesuatu yang tak akan pernah mati. Mudah- mudahan tulisan ini menjadi bagian dari rasa cinta itu.

1. Gereja – Sakramen Keselamatan Universal!

Kateksimus Gereja Katolik menerangkan bahwa Gereja adalah sakramen keselamatan yang sifatnya universal. Keselamatan itu tidak untuk dirinya sendiri tetapi untuk dunia di luar dirinya. Kata Latin “sacramentum” dimaknai sebagai tanda kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan. Gereja mengandung dan menyampaikan rahmat yang tidak tampak, yang ia lambangkan. Inilah letak sakrementalitas Gereja.

Sebagai Sakramen, Gereja adalah alat Kristus. Gereja di dalam tangan Tuhan adalah “alat penyelamatan semua orang” (LG 9), “Sakramen keselamatan bagi semua orang” (LG 48), yang olehnya Kristus “menyatakan cinta Allah kepada manusia sekaligus melaksanakannya ” (GS 45,1). Ia adalah “proyek yang kelihatan dari cinta Allah kepada umat manusia”. Cinta ini merindukan, “supaya segenap umat manusia mewujudkan satu Umat Allah, bersatu padu menjadi satu Tubuh Kristus, serta dibangun menjadi satu kanisah Roh Kudus” (AG 7).

Gereja dipanggil bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menjadi saksi Kristus yang membawa keselamatan dunia. Yesus sendiri menyebut peranan Gereja dalam rangka peristiwa keselamatan itu. Ada tertulis demikian, “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi, dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini.” (Luk 24:46-48) . Agar Gereja mampu menjadi saksiNya, Kristus menjanjikan Roh Kudus (Luk 24:49) .

Dalam hal ini, Konsili Vatikan II menyadari dengan baik tugas perutusannya, “Kepada para bangsa dan Gereja diutus oleh Allah untuk menjadi ‘Sakramen Universal keselamatan’.”(Ad Gentes, 1). Petikan-petikan dokumen Gereja ini mengisyaratkan bahwa Gereja harus berada di tengah dunia dan memancarkan hakikat dirinya sebagai “keselamatan” dalam segala bidang kehidupa social-kemasyarakatan. Oleh karena itu sejauh politik tak disempitkan hanya pada level mencari kekuasaan, maka Gereja harus hadir di situ. Dan jika “kekuasaan” yang dimaksud adalah status legitim demi meangakselerasi kegiatan yang menyejahterakan masyarakat, maka Gereja hadir sebagai corong moral, sehingga para orang yang meraih kekuasaan tersebut mengerti dan mampu mengeksekusi “kekuasaan – kapasitas” yang dimilikinya untuk mencipta kesejahteraan masyarakan (Bonum Communae) secara benar dan baik.

2. Politik Sebagai Sakramen?

Terminology politik sebagai sakramen lahir dari Johann Baptist Metz, seorang teolog Jerman, pada tahun 1966. Istilah “sakramen politik” tentu membuat para dahi kristiani berkerut, mengingat keterlanjuran public memandang bahwa politik adalah kotor. Bagaimana mungkin sesuatu yang kotor dapat menjadi tanda nyata yang meyelamatkan? Jika cara pandang kita linear ekstrim, maka pertanyaan ini beralasan. Tetapi jika rela untuk menyelam lebih dalam sedikit, maka tampaknya ada juga kebenaran dalam gagas- pikir Metz.

Pokok pikiran Metz adalah Teologi Politik. Teologi politik hanya sebuah istilah yang dipakai Metz untuk memberikan pendasaran teologis bagi urgensi partisipasi Gereja dalam ruang publik. Kebenaran iman bukanlah sebuah persoalan doktrinal atau syahadat, melainkan kesanggupannya untuk mendorong inisiatif-inisiatif perubahan dalam masyarakat. Dengan teologi politik Metz memberi koreksi kritis terhadap tendensi memprivatkan (hanya untuk Gereja) teologi kristiani. Bagi Metz pesan-pesan utama kekristenan seperti kebebasan, perdamaian, keadilan, dan rekonsiliasi tidak boleh dibungkus semata spritual dan disempitkan ke dalam rasa aman seseorang secara pribadi. Sebaliknya, pesan-pesan ini memiliki kapasitas yang terbuka untuk mendorong perubahan kondisi sosial. Iman kristiani yang berakar dalam Kitab Suci, Tradisi Suci dan Dogma, harus mampu memberikan perubahan dan pembaharuan bagi dunia. Politik haruslah ditempatkan sebagai ruang bagi Gereja untuk menanamkan nilai-nilai fundamental yang ada dalam ketiga sumber iman tersebut. Dengan kata lain iman tidak boleh hanya kesalehan pribadi, tetapi menjadi kesalehan public, karena para pihak yang bergerak di wilayah public adalah saleh. Nah bagaimana mungkin Gereja dapat mengubah dan membaharui dunia jika ia alergi dengan politk?

Jika kita masih yakin dan percaya Allah yang kita imani ada di dalam semua dan menjadi semua baik, maka nilai-nilai imam kristiani, tidak bias tidak, harus menerangi politik, khususnya person-person politik (politikus). Dan karena Gereja Indonesia telah berkomitmen untuk “Pro Ecclesia et Patria”, maka tanggung-jawab ini harus diwujudkan. Bagaimana caranya? Gereja hendaknya bertindak bagai seorang ibu yang tekun dan setia (penuh cinta) memberikan nutrisi tanpa tandingan, yakni ASI nilai- nilai moral kristiani kepada kaum awam Katolik yang berpolitik praktis. Dengan harapan besar bahwa merekalah yang menularkan nutrisi itu kepada ruang-ruang public di mana mereka berada dan terlibat. Dengan kata lain, bantuan Gereja membuat kaum awam Katolik sungguh menjadi tanda-tanda kelihatan karya keselamatan Allah. Inilah makna sesungguhnya dari “sakramen politik”.

3. Bagaimana Gereja harus

melibatkan dirinya dalam politik? Dokumen konsili Vatikan II, Gaudium et Spes menyatakan: “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia dewasa ini, terutama yang miskin dan terlantar adalah kegembiraan dan harapan murid- murid Kristus pula. Dan tidak terdapat apapun yang benar-benar manusiawi yang tidak bergema di dalam hati mereka. Karena persekutuan mereka terdiri dari manusia-manusia yang dipersatukan di dalam Kristus dan dibimbing oleh Roh kudus dalam ziarahnya menuju Bapa dan menerima warta keselamatan …”

Keterlibatan Gereja dalam politik haruslah diarahkan kepada tindakan keselamatan universal yang mengemban kecemasan, kegembiraaan dan dukacita seluruh umat manusia. Yang mau ditekankan di sini adalah tindakan Gereja melibatkan dirinya dalam pesoalan universal. Gereja mengambil peran aktif, tanpa ada rasa takut atau minder. Bukan Tuhan Yesus berkata, “Aku mengutus kamu ke tengah kerumunan serigala?” Kemiskinan, keborokan moral, masalah ketidakadilan dan pelecehan Hak Asasi Manusia harus mengusik nurani Gereja untuk bersaksi dan terlibat. Sehingga teologi yang suci bagi Gereja menjadi sesuatu yang nyata dan mengubah dunia. Gereja harus mengajarkan umat bahwa terlibat dalam dunia politik merupakan anugerah yang terbesar, mengingat misteri inkarnasi sendiri langsung berkaitan dengan hal tersebut. Allah menjadi manusia merupakan pencerahan bagi manusia karena Allah turut berpartisipasi dengan kehidupan manusia dan rela menjadi bagian dari anggota masyarakat. Kekotoran dan kehirupikikukan dunia ini tidak menghalangi rencana Allah untuk terlibat aktif dan menjadi bagian dari kekotoran dunia itu. Maka secara teologis, keterlibatan umat beriman dalam politik bangsa mendapat akarnya dalam misteri Inkarnasi. Keterlibatan anggota Gereja dalam politik merupakan rahmat terbesar karena sudah memenuhi panggilan terbesar untuk peduli terhadap persoalan dan cita- cita hidup bermasyarakat dan berbangsa. Perihal keterlibatan Gereja dalam politik, dapat diwujudkan dalam dua cara.

a. Mendampingi para pelaku politik paraktis (orang awam katolik) untuk meraih kekuasaan dengan benar dan baik. Input-input seputar keorganisasian, komunikasi politik, strategi yang tepat mempertahankan kepercayaan public, dsb. Gereja dapat memfasilitasi menghadirkan para pakar dari berbagai bidang untuk menganimasi para politikus katolik. Selain itu meskipun politik praksis adalah hak asasi setiap orang, tetapi dengan caranya Gereja dapat membuka pikiran dan hati para pihak, agar mereka tahu diri, sadar akan tanggung-jawabnya; dan lebih dari itu bahwa diri dan tindakkannya dalam lingkungan politik mempunyai kaitan logis dengan keberadaannya sebagai orang Katolik. Satu titik nila yang dibuatnya ottomatis akan merusak sebelanga susu Katolik.

b. Menyadarkan semua orang Katolik yang tidak terjun dalam pertarungan perebutan kekuasaan, untuk mengaplikasikan hak politknya dalam wujud kepeduliaan sosial, tanggung jawab dan panggilan kewarganegaraan. Sebab keberadaan kita dalam satu lingkungan sosial (negara) adalah keberadaan politis (politisches sein). Keterlibatan penuh setiap orang Katolik dalam lingkungan social-kemasyarakatan merupakan perwujudan perintah Tuhan Yesus untuk mewartakan Injil. Dengan pemetaan dua segment yang menjadi ruang bagi Gereja untuk mewujudkan keterlibatannya dalam politik ini, maka menjadi terang bahwa di level itulah tugas Gereja. Oleh karena itu para persona Gereja (para Uskup dan para Imam), hendaknya bisa menempatkan dirinya dengan tepat. Pertanyaannya:

a). Apakah para imam boleh menjadi tim sukses orang-orang tertentu? Ataukah secara terang-benderangan menggunakan mimbar untuk mendukungan seseorang? Atau bolehkan Gereja, secara khusus seorang imam boleh mendapat atau meminta sesuatu kepada person politik tertentu sebagai garansi atau kupon penukar dukungan? Bukan ia akan menyakiti hati politikus Katolik lainnya yang tidak ia dukung? Bukan dengan itu ia sedang memasukan dirinya dalam jebakan politik dengan konotasi kotor yang terus meningkat akhir-akhir ini? Bukankah ia tengah meretas pengerdilan imamat dan hakekat panggilan Gereja? Dan apakah kita rela, jika seorang imam harus berurusan dengan KPK karena menjadi bagian dari kejahatan korupsi?

b). Apakah seorang imam boleh dicalonkan untuk jabatan politis? Atau terang-terangan mengajukan dirinya untuk jabatan politis tertentu? Apakah ia ditahbiskan menjadi imam untuk itu? Gereja sebagai agen keselamtan harus menawarkan keselamtan yang universal yaitu menyangkut kehidupan segenap umat manusia. Gereja tidak dibenarkan untuk diam terahadap segala persoalan pelik yang dihadapi masyarakat dan bangsa. Gereja harus kembali menjadi gerakan rohani di tengah dunia konkret. Para tokoh-tokoh Gereja (hierarki) hendakanya terlibat langsung dengan keprihatinan umat manusia yang tengah berupaya mencari makna kesejatian hidup. Tetapi tetap harus disadari betul bahwa ada batas-batas keterlibatan yang legitim bagi hierarki. Tindakkan person Gereja yang melampaui batasan itu adalah urusan pribadi. Dan tolong dicatat bahwa adalah lebih baik kita mencegah pecemaran susu sebelanga oleh setitik nila. Dan jika ada person-person Gereja yang berpotensi besar menjadi nila, maka daya kritis Hirarki Gereja dan umat Katolik harus berfungsi. Sebab meskipun “diam adalah emas” tetapi harus diingat bahwa tidak semua tindakan diam adalah emas! Adalah lebih baik menyatakan salah, lau dikoreksi/direhabilitasi, daripada membiarkan seolah benar, padahal di depan mata ada jurang bertumpuk beling yang siap menenggelamkan Gereja...

Puisi: Rindu Orang Tua

Diposting oleh mapancloseup pada 22:51, 09-Jun-16  •  Komentar (0)

RINDU ORANG TUA oleh:jimmy

Aku Berjalan Sendirian Di gelapnya dunia ini Tanpa Ada Yang Menuntunku Tanpa Ada Yang Menunjukkan ku..

ku Lewati hari2 ku Tanpa Kehadiran danN Kasih Sayang Darimu....

Mungkin Hanya Lewat Angin Aku Tutip Kan Rindu ku,

Mungkin Hanya Doa Sebagai Sarana daN Harapan ku unntuk Mu

Mungkin Hanya Mimpi.... Sebagai Tempat Terindah Pertemuan ku Dengan Mu

Mungkin Hanya Dalam Catatan Kecil ini, aku Bisa Mengungkap Kan Kerinduan ku

Mungkin Hanya Dengan Tulisan ini, aku Bisa Mencurahkan Isi Hati ku.....

Ayah, ibu ....... Aku Rindu Kalian

Tlah ku Coba Tuk Menghapus Kerinduan INi,, tapi Hatiku ini Tak Mampu Menahannya, Tapi Mata ini Tak Mampu Membendung Air Mata Krinduan ini...

Ya Allah,,, hanya Pada Mu Aku Meminta,, lindungilah Ayah Dan Ibuku, panjangkan Lah Umur Mereka, berilah Kesehatan Pada Mereka Ya Allah... Agar Aku Bisa Tuk Membalas Jasa2nya..... Ayah......Ibu..... Apakah Kau Mendengar Ratapan ini. Ratapan Anakmu Yang Selalu Merindukan Kasih Sayangmu, Ratapan Anakmu Yang Jauh Dari Kasih Sayangmu....

Ayah,ibu.... Maafkan Anak Mu, yang Hingga Kini Belum Mampu Membalas Kebaikan Ayah dan Ibu Selama ini...

Ayah,ibu.... Do'akan Anakmu ini, Supaya Sukses Dalam Meraih Cita2 ini,

Ayah,ibu..... Do'akn Anakmu Agar Slalu Kuat Menjalani Hidup Tanpa Kehadiran daN Kasih Sayang Dari Ayah Dan Ibu.....

Minggu 24 Mei 2015

puisi: Ibu Bawalah Aku Pulang

Diposting oleh mapancloseup pada 22:44, 09-Jun-16  •  Komentar (0)

IBU, BAWALAH AKU PULANG oleh:jimmy

Terhanyut aku terbawa arus suasana malam ini malam yang sunyi,hening, dingin mencekam

Tenggelam aku dalam lamunan duduk terpaku memikirkan nya Tetesan hujan pun mulai turun menambah hening suasana hati ini Hingga tak terasa kertas ini pun basah sebab hujan yang menetes dari mata ku Dengan tetesan air mata

ku susun puisi ini Dalam balutan kesedihan ku tulis bait demi bait Tentang rasa ini Yang merindukan sosok matahari Yang menerangi hidup ku ini Tentang hati ini Yang merindukan pelangi Yang dulu mewarnai hidup ini

AKU MERINDUKAN MU IBU

Tak cukup secarik kertas Tuk lukis kan perasaan ini Tak cukup hanya dengan goresan pena Tuk coret kan rasa rindu ini

Oh....matahariku

Aku masih butuh penerangan mu Wahai pelangi ku Aku masih ingin kau mewarnai hidup ku

Oh ibu ku.....

Aku ingin pulang Tak kuasa lagi aku menahan rasa ini Rindu ini seakan membunuh ku Oh ibu ku BAWALAH AKU PULANG BERSAMA MU......